Vietnam adalah negara dengan sejarah panjang perang. Sementara menurut Bambang Cipto, Vietnam adalah negara Asia Tenggara yang paling ekspansionis[1]. Sebelum kedatangan negara-negara colonial dari Eropa, Vietnam menyerang kerajaan Khmer (Kamboja)[2]. Lalu setelah Perancis masuk ke wilayahnya, Vietnam memeranginya untuk dapat mempertahankan wilayahnya. Setelah Perancis dan sekutu kalah untuk sementara dalam Perang Dunia II dan harus menyerahkan Vietnam sebagai jajahan Jepang, Vietnam terus berperang dalam usaha memerdekakan diri. Hingga akhirnya pada tanggal 2 September 1945, dengan dipimpin oleh Ho Chi Minh yang beraliran kiri, Vietnam memproklamirkan kemerdekaannya[3].
Namun setelah merdeka Vietnam tidak berhenti berperang. Perancis datang kembali ke Vietnam setelah kekalahan Jepang di kancah global. Akibatnya perang antara Perancis dan Vietnam tidak terhindarkan. Pertempuran utama kemudian terjadi di Dien Bien Phu. Perancis mengalami kekalahan dan bersedia berunding di Geneva[4]. Hasil perundingan di Geneva pada 29 Juli 1954 tersebut [5] mengakhiri perang Indochina. Vietnam pun harus dibagi menjadi dua, yaitu Vietnam Utara dengan Ibukota Hanoi, dan Vietnam Selatan yang beribukota di Saigon. Vietnam Utara beraliran komunis dengan disokong Uni Soviet dan China. Sementara Vietnam Selatan yang non-komunis didukung Amerika.
Perseteruan kembali muncul ketika ide pemilihan umum dan reunifikasi Vietnam bergulir. Vietnam Selatan dan Amerika menolak ide tersebut. Kedua Vietnam segera menjadi bidak dalam perang ideologi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Namun dalam perang Vietnam,Amerika secara mengejutkan berhasil dikalahkan dalam perang tersebut. Ini ditandai dengan disetujuinya Paris Peace Accord pada 27 Januari 1973 untuk menarik seluruh pasukan Amerika Serikat dari Vietnam Selatan[6]. Tanpa bantuan AS, Vietnam Selatan sulit memenangi pertempuran., hingga akhirnya Saigon jatuh ke tangan komunis dan berganti nama menjadi Ho Chi Minh City pada April 1975[7]. Kedua negara pun akhirnya bersatu di bawah pemerintahan komunis dengan nama Republik Sosialis Vietnam pada tahun 1976[8].
Pemimpin di Hanoi merasa bangga dengan status mereka sebagai pemenang dalam perang melawan Amerika yang merupakan negara adidaya. Merasa di atas angin mereka pun segera berekspansi ke Kamboja pada 25 Desember 1978[9]. Alasannya adalah untuk menumbangkan rezim Pol Pot yang bertindak kejam terhadap warganya sendiri. Di Kamboja, Vietnam kemudian mendirikan rezim boneka yang dipimpin oleh Heng Samrin[10].
Invasi tersebut menyulut serangan China yang pro kelompok Khmer Merah pada 17 Februari 1979 ke Vietnam bagian Utara[11]. Namun serangan tersebut gagal memaksa Vietnam keluar dari Kamboja. Akhirnya pada 16 Maret 1979, China menarik kembali pasukannya. Namun China bukan satu –satunya pihak yang tidak menyetujui perlakuan Vietnam terhadap Kamboja. ASEAN secara resmi menyatakan penolakan terhadap kepemimpinan Heng Samrin di Kamboja[12]. Negara-negara ASEAN pun turut membantu penyelesaian konflik di Kamboja. dengan menggelar berbagai pertemuan. Beberapa diantaranya adalah, pertemuan Kuantan pada Maret 1980, Konferensi Internasional Kamboja di New York, dan Jakarta Informal Meeting I dan II pada Juli 1988 dan Februari 1989[13].
Perdamaian yang akhirnya terwujud, juga dipicu oleh keadaan di dalam negeri Uni Soviet sebagai pendukung utama pendudukan Vietnam. Michael Gorbachev yang menyadari bahwa Uni Soviet mulai mengalami kesulitan keuangan, mulai menghentikan bantuan-bantuan bagi Vietnam[14]. Hal tersebut selain membuat panik pemimpin Vietnam, juga membuat China mengurangi bantuannya bagi kelompok gerilyawan Khmer Merah. Kedua kubu sama-sama melunak. Kemudian, Perancis juga mengakomodasi terciptanya perdamaian dengan mengadakan Konferensi Perdamaian Paris pada tanggal 30 Juli-30 Agustus 1989 dan pada 21-23 Oktober 1991[15]. Pada tahun 1991 itulah, pendudukan Vietnam atas Kamboja berakhir.
[1] B. Cipto, Hubungan Internasional di Asia Tenggara, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2007, p.22
[2] B. Cipto, Hubungan Internasional di Asia Tenggara, p.10
[3] Asia Maya, Perang Vietnam (online) <http://www.asiamaya.com/panduasia/vietnam/e-01land/ev-lan24.htm>
[4] B. Cipto, Hubungan Internasional di Asia Tenggara, p.36
[5] Asia Maya, Perang Vietnam (online)
[6] Asia Maya, Perang Vietnam (online)
[7] Country studies on Federal Research Division of the Library of Congress, Thailand Foreign Affairs (online) <http://countrystudies.us/thailand/83.htm> 20 November 2010.
[8] B. Cipto, Hubungan Internasional di Asia Tenggara, p.46
[9] B. Harymurti, Mengapa Vietnam Datang ?, 30 Juli 1988, (online), <http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1988/07/30/NAS/mbm.19880730.NAS25282.id.html>
[10] B . Cipto, Hubungan Internasional di Asia Tenggara, p.46
[11] R. R.A. Kawilarang & E. Solahuddin, China Serbu Vietnam, 17 Februari 2010 (online) <http://dunia.vivanews.com/news/read/129964-china_serbu_vietnam>
[12] B. Cipto, Hubungan Internasional di Asia Tenggara, p.47
[13] B. Cipto, Hubungan Internasional di Asia Tenggara, p 52-58
[14] B. Cipto, Hubungan Internasional di Asia Tenggara, p 59
[15] B. Cipto, Hubungan Internasional di Asia Tenggara, p 68
Tidak ada komentar:
Posting Komentar