home

Kamis, April 28, 2011

Refleksi Politik Luar Negeri Thailand: Film Anna and The King

Film Anna and The King, sangat menggambarkan politik luar negeri Thailand yang pragmatis. Choi Yun Fat yang berperan sebagai raja, berkali-kali digambarkan memikirkan cara agar Thailand terhindar dari perang terbuka dengan cara mengundang pihak asing untuk membantu Thailand. Awalnya beliau bingung, untuk memilih antara pihak Inggris atau Perancis dalam meminta dukungan. Namun akhirnya sang raja memilih untuk lebih mendekat dengan pihak Inggris yang menjadi protektor dari Burma. Pilihan raja didasarkan oleh pertimbangan bahwa Burmalah yang saat itu menjadi ancaman bagi Thailand dengan membunuhi warga Thailand. Jadi dengan mendekat pada “penguasa” negara Burma, tindakan Burma yang merugikan tersebut, bisa ditekan. Selain alasan lain bahwa guru bagi keluarga kerajaannya, berasal dari Inggris. Kemudian, ketika sang raja merasa bahwa Inggris kurang bisa diharapkan untuk menangani masalah dalam negeri Thailand, raja Mongkut kemudian mengirim surat untuk pemerintah Amerika Serikat, untuk meminta dukungan, sekaligus menawarkan pemberian hadiah berupa gajah.

Raja Mongkut, dikenal sebagai raja yang cukup awal memberikan modernisasi bagi Thailand, selain pendahulunya yang berasal dari dinasti yang berbeda dengannya (yaitu raja Ayutthaya). Raja  Mongkut yang sangat reformis, mempelajari rasionalisme ilmiah dari barat. Inilah pula yang mendasari tindakannya mendatangkan guru dari Inggris bagi anak-anaknya. Motivasinya utamanya sebenarnya adalah agar Thailand bisa mendapat kedudukan yang sejajar sebagai bangsa yang berdaulat (bukannya sebagai bangsa koloni) di mata masyarakat internasional dengan memberikan pencerahan demi kemajuan Thailand.

Raja, sangat berperan bagi politik luar negeri Thailand. Dengan mengadakan perjamuan makan malam, pesta-pesta, dan memberikan pendidikan yang layak pada keluarga kerajaan (agar tidak dibodohi atau dicemooh negara lain), raja menunjukkan sikap menjaga gengsi Thailand. Dalam film, raja meminta Anna untuk mengadakan acara pesta sesuai dengan kebudayaan Inggris, yang pada masa itu dikenal sebagai kebudayaan dunia.

Raja Mongkut lah yang mula-mula memperkenalkan budaya barat bagi Thailand, tidak hanya dalam berdansa dan berpesta namun juga liberalisme (di film terlihat dari pembukaan hubungan perdagangan Thailand bagi investor Inggris), dan pengakuan hak asasi manusia. Dalam film tersebut, digambarkan bahwa Anna sangat menentang perbudakan. Sang raja, pada banyak hal terlihat menyetujui pula pendapat Anna tersebut, tapi masih beliau juga sempat berkata bahwa Thailand tidak bisa diubah dalam tempo yang sangat singkat, dan bahwa perbudakan tersebut sudah menjadi hal yang lumrah di Thailand karena adanya kepercayaan akan reinkarnasi . Namun raja akhirnya membiarkan Anna mengajari Chulalongkorn mengenai hak asasi manusia dan demokrasi. Di dunia nyata memang Chulalongkorn lah yang benar-benar berusaha mewujudkan demokrasi di Thailand dengan memberi wasiat pada puteranya Vajiravudh untuk membentuk konstitusi dan parlemen. Dia berkata, “I entrust onto my son, Vajiravudh a gift for the people and that upon his accession to the throne he will give to them a parliament and constitution. ”

Dengan memberikan pendidikan bagi anak-anaknya, terutama sang putera mahkota Chulalongkorn, Raja Mongkut juga memberikan nilai-nilai fundamental bagi Thailand yang masih bertahan hingga saat ini. Nilai-nilai tersebut adalah bahwa Thailand tidak memandang negara barat sebagai musuh, namun sebagai guru, teman, sekaligus pelindung bagi negara itu. Mindset raja tersebut, sangat berpengaruh bagi Politik Luar Negeri Thailand. Dalam kehidupan nyata, setelah diangkat menjadi raja pada umur 15 tahun, Chulalongkorn kemudian mengirimkan keluarga kerajaan untuk belajar di Eropa, hal yang kemudian diikuti oleh banyak warga Thailand lainnya terutama para aristokratnya. Ini masih sering dilakukan oleh masyarakat Thailand hingga saat ini. Dan hal ini menjadikan ikatan Thailand dengan negara-negara barat sangat kuat. Dari ikatan inilah Thailand menjalankan politik luar negeri yang pragmatis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar