Budaya politik didefinisikan Almond dan Verba sebagai suatu sikap orientasi yang khas warga negara terhadap sistem politik dan aneka ragam bagiannya, dan sikap terhadap peranan warga negara yang ada di dalam sistem itu[1]. Orientasi tersebut memiliki komponen-komponen sebagai berikut:
1. Kognitif: pengetahuan dan keyakinan pada objek politik
2. Afektif: perasaan, keterlibatan, penolakan terhadap objek politik
3. Evaluatif: penilaian dan opini yang melibatkan standar nilai dan kriteria
Sementara menurut saya budaya politik adalah bentuk sikap kolektif dari warga negara suatu bangsa, yang menunjukkan suatu kekhasan tersendiri dalam memandang dan menjalankan politik dan hal-hal yang terkait didalamnya. Dalam buku Comparative Politics Today, dijelaskan bahwa budaya politik dipetakan dalam 3 level, yaitu:
1. Sistem Politik
Level ini merupakan dasar penekanan komitmen kepada pemerintahan dan negara. Perasaan akan kebanggaan nasional dianggap sebagai ikatan afektif emosional bagi suatu sistem politik. Selain itu, perasaan akan legitimasi juga menjadi salah satu fondasi suksesnya sistem politik.
2. Proses Pembuatan Kebijakan
Level ini mencakup tiga pola berbeda dalam mengambarkan peran masyarakat dalam proses politik. Yaitu Partisipan (memiliki potensi untuk terlibat dalam proses politik), Subjek (secara pasif tunduk pada pemerintahan namun tidak melibatkan dengan aktif), Parokial (tidak tahu tentang politik dan pemerintahan).
3. Hasil dan akibat kebijakan
Kebijakan sebuah negara dipengaruhi oleh gambaran publik akan masyarakat yang baik dan peran pemerintahan dalam mencapai tujuan.
[1] Churohman, Mifta. Budaya Politik. http://miftachr.blog.uns.ac.id/2010/01/budaya-politik/ diunduh pada 12 Oktober 2010.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar