Institusional bargaining adalah suatu model yang ditawarkan Young dalam pembentukan rezim internasional. Model ini, memiliki penekanan pada proses negosiasi yang terjadi di antara pihak-pihak yang sarat dengan kepentingan masing-masing, sebagai alat untuk mengurusi permasalahan aksi kolektif (collective-action problems). Ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
- Multiple actors and unanimity rules
Usaha membentuk rezim internasional melibatkan sejumlah partisipan yang otonom. Persoalan spesifiknya adalah agar semua partisipan yang terlibat bisa menerima rezim tersebut. Hal ini disebut unanimity rules.
Proses negosiasi yang berjalan diusahakan agar menghasilkan kesepakatan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan bersama
Pembentukan rezim ini, akan memakan waktu lama. Ketika mayoritas anggota semakin bertambah dan aturan dalam rezim semakin permanen, maka aktor individual semakin tidak pasti dengan dampak pilihan di posisinya. Namun justru, ketidakpastian ini yang sebenarnya memfasilitasi usaha untuk mencapai kesepakatan dalam rezim internasional.
Para aktor yang terlibat dalam proses negosiasi cenderung hanya berfokus pada pada masalah-masalah utama saja, mengartikulasikan beberapa pedekatan terhadap masalah tersebut dan berusaha untuk mendamaikan perbedaan-perbedaan yang ada.
Terdapat, banyak situasi-siatuasi yang mendorong terciptanya aliansi-aliansi transnasional di antara kelompok kepentingan yang mendukung terbentuknya rezim internasional
Shifting involvements adalah adanya pilihan-pilihan strategis oleh suatu aktor dalam pelibatan dirinya dengan suatu rezim. Karena fomasi rezim internasional selalu memiliki keterkaitan hubungan dengan event lainnya dalam lingkungan politik, sosio-ekonomi. Seorang aktor bisa memilih melibatkan diri dalam lintas isu atau satu isu menarik diri, secara aktif atau parsial.
Hal-hal yang mendorong keberhasilan rezim internasional institusional bargaining adalah:
• Ada isu yang dipertaruhkan
• Dapat diterimanya hasil kesepakatan oelh semua pihak secara equal
• Adanya solusi yang tepat dan jitu (salient solution)
• Adanya mekanisme kepatuhan/kesesuaian yang efektif dan jelas
• Adanya krisis (exogenous crisis/shock) sebagai momentum yang fenomenal
• Adanya kepemimpinan yang efektif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar